Sabtu, 13 Desember 2014

Otonomi Daerah



A.    Arti Otonomi Daerah
            Istilah Otonomi Daerah berasal dari Yunani autos yang berarti sendiri dan nomos yang berarti undang-undang atau aturan. Dengan demikian otonomi daerah dapat di arttikan kewenangan untuk mengatur dan mengurus rumah tangga sendiri (Bayu Suryaninrat ;1985).
            Beberapa pendapat para ahli yang dikutip oleh abdulrahman (1997),mengemukakan bahwa:
1.      F.Sugeng Istianto mengartikan tonomi daerah sebagai hak dan wewenang untuk mengatur dan mengurus rumah tangga sendiri.
2.      Ateng Syarifuddin mengemukakan bahwa otonomi daerah mempunyai makna kebebasan atau kemandirian tetapi bukan kemedekaan.Kebebesan yang terbatas atau kemandirian itu terwujud pemberian kesempatan yang harus dpertanggung jawabkan.
3.      Syarif Sholeh berpendapat bahwa otonomi daerah adalah hak mengatur dan memerintah daerah itu sendiri.hak yang diperoleh dari pemerintah pusat.

Dunia Luas tak Berdinding

ingat masa itu?
aku mendadak merindukan masa-masa ini. masa-masa penuh perjuangan setiap ujian "muhafadzah" dan penuh tirakat. mendendangkannya setiap hari tanpa lelah. entah kapan masa-masa itu akan hadir kembali. aku merindukannya. aku ingin menikmatinya kembali.
Namun kusadari inilah fase kedewasaan. fase untuk mencari ilmu yang lebih. tidak hanya berpatok pada ilmu yang pernah kudapat. budaya pesantren memang terpatri di hati. membuatku mengerti masih ada dunia yang luas di luar kehidupan matrialistis.
"Pesantren" setiap orang mungkin berpikir tempat kumuh dimana tempat orang-orang bersarung dan berjilbab berkumpul. namun bagiku, "pesantren" adalah tempat paling cerah dari pantai, gunung dan lainnya dimana orang terbiasa menghabiskan waktunya. didalamnya terdapat para pecinta hakikat Rabb yang sesungguhnya. langkah mereka ikhlas dalam mencari ilmu-Nya, ikhlas dalam memperjuangkan agama-Nya.

Dilema Pendidik

Oke guys, hari ini saya akan membicarakan tentang peran pendidik. Dilihat dari dzahirnya, problematika yang ada pada saat ini tidak lain selalu disangkutpautkan dengan kesalahan pada sisi pendidikan dan dengan otomatis pendidik (red. guru) akan menjadi tersangka utama. Teringat pada saat pembimbingan pengabdian masyarakat tempo hari seperti biasa sebelum kami diberi materi yang cukup memanaskan otak, pemateri akan memberikan umpan-umpan yang akan kembali menumbuhkan semangat kami yang mulai jenuh dengan materi pada saat itu. seorang pemateri mengeluarkan leluconnya kira-kira ungkapannya seperti ini "di sini berapa orang yang dari FITK? tolong acungkan tangan" kami sontak mengacungkan tangan "kasihan ini anak-anak FITK, selalu disalahkan jika ada problematika di dunia. dikit-dikit salah pendidikannya. Jadi yang sabar ya anak FITK."

Jumat, 24 Oktober 2014

Dasar Pendidikan "pengantar pendidikan review"



BAB I
HAKIKAT MANUSIA DAN PENGEMBANG

A.Sifat Hakikat Manusia
                 Sifat hakikat manusia menjadi bidang kajian filsafat,khususnya filsafat antropologi.hal ini menjadi keharusan karena pendidikan bukanlah sekadar soal praktek yang berlandasan dan bertujuan.sifat hakikat manusia bersifat filosofis karena untuk mendapatkan landasan yang kukuh diperlukan adanya kajian yang bersifat mendasar,sitematis,dan universal tenteng ciri hakiki manusia.bersifat normatif karena pendidikan mempunyai tugas untuk menumbuhkembangkan sifat hakikat tersebut sebagai sesuatu yang bernilai luhur,dan hal itu menjadi keharusan.

Minggu, 21 September 2014

MAKALAH SOSIOLOGI POLITIK KONFLIK DAN INTEGRITAS POLITIK



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Organisasi merupakan kesatuan individu yang memiliki tujuan yang sama. Namun layaknya ilmu Sosiologi yang selalu berubah, setiap individu pun dapat berubah seiring berubahnya pola pemikiran setiap individu. Seringkali dalam individu dihadangkan pada perbedaan-perbedaan yang pada ujungnya menimbulkan konflik.
Orde baru, seringkali menerjemahkan konflik dalam istilah yang negative sebagai bentuk trauma orde baru akibat ketidakstabilan politik pada masa orde lama, dominasi ilmu sosial fungsionalisme structural di jagad keilmuan sosial Indonesia pada periode tersebut serta kepentingan pembangunan yang mensyarakat stabilitas politik berlebihan. Itulah yang kemudian menyebabkan segala potensi modal sosial, aspirasi, dan konflik yang terpendam muncul secara radikal dalam bentuk kekerasan selama transisi demokrasi sejak 1998 sebagai efek dari pengharaman konflik serta pengabaian eksistensi dinamika sosial.

Sabtu, 24 Mei 2014

Langit Akan Tetap Tenang



“kapan kita ndak kena’ macet ya?” ucap Gilang. Seorang cowok dari pelosok Jawa tengah yang akan selalu menggerutu akan kemacetan yang terjadi setiap kami pulang dari kuliah. Menurut ceritanya, ia tak pernah menemukan hal semacam ini di Jepang. Yah, dia seorang peserta pertukaran pelajar pada tahun 2010 lalu. Meski hanya 1 bulan, namun konon katanya ia merasakan simpati yang mendalam pada Indonesia saat ia sedang berada di sana. Ia merasa Indonesia sangat sesak akan kasus. Yah, meskipun ia selalu menyanjung Indonesia di akhir ceritanya karena tidak rawan gempa.
Aku selalu terkikik saat ia menggerutu seperti itu. Dengan gaya bahasanya yang kental dengan logat jawa itu, aku merasa nyaman saat ngobrol dengannya. Mungkin orang di sekitar kami di bus ini tak akan menyangka bahwa lelaki medok ini mahir berbicara dalam bahasa Jepang dan saat mendengar cerita yang secara tak sengaja didengar darinya, mungkin mereka menganggap ceritnya sebagai cerita rekayasa belaka. Inilah Uniknya, Ia selalu menggerutu dengan menambahkan cerita di belakangnya dengan tingkat percaya diri di atas rata-rata. Yah, meski kadang cerita itu seringkali diulang kembali.

Senin, 05 Mei 2014

STOP Kekerasan Terhadap Anak-Anak!!



Kekerasan. Dari bentuk kata yang ada, setiap orang akan membayangkannya seperti pukulan, cubitan atau lebih parahnya lagi menyiram air panas dan sebagainya yang merusak fisik. Namun tahukah anda wahai para orang dewasa? Kekerasan bukan hanya menyakiti fisik mereka, namun merusak mental mereka dengan kata-kata pedas, kata-kata kotor juga merupakan kekerasan, gadget dan pakaian yang tak sesuai dengan usiapun juga termasuk dalam kriteria kekerasan. Lebih Tepatnya, Kekerasan bisa pula didefinisikan sebagai peruskan potensi anak untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan kemampuan mereka. Ibarat  sebuah kertas putih yang dicoret-coret tanpa aturan, hanya akan berisi garis yang tak nyaman dibaca maupun dilihat, garisnya pun tak memberikan makna abstrak layaknya lukisan abstrak. Namun beda cerita dengan sebuah kertas putih yang didalamnya tegores guratan tulisan penuh makna ataupun lukisan indah penuh warna. Maka, Kertas yang murah akan menjadi mahal.