Label

Tampilkan postingan dengan label catatan bebas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan bebas. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 April 2016

Engkau yang Berjuang untukku

Sering kutatap dari kejauhan sini. Entah ketika berpapasan, maupun ketika kau melintasi halaman rumahku. Mungkin banyak perempuan yang akan mengharapkanmu. Aku hanya sekian persen perempuan yang mungkin buta akan tampangmu yang rupawan, pekerjaan yang mapan, suaramu yang merdu saat mengumandangkan senandung shalawat atas baginda Nabi Muhammad SAW, ditambah lagi pendidikanmu yang tinggi di banding lelaki lain di desa. Salut? Iya. Aku akui.
"Mas, maaf." Hanya kata ini yang ingin aku katakan.
Aku telah mendengar dari Ibuku serta Tetanggaku tentang kau. Mas, bukannya aku tidak menghargai perjuanganmu. Hanya saja, aku cukup tersakiti dengan ucapanmu di hadapan mereka yang menjanjikan kebahagiaan duniawi semata. "Apakah aku sehina itu?" adalah kata yang keluar pertama kali saat mendengarnya. "Tidak pantaskah diriku mendapatkan orang yang sederhana saja?" itu menjadi ucapan dalam hati selanjutnya.
Mas, aku hanya perempuan sederhana yang tidak mengharapkan harta sebagai jaminan kebahagiaan setelah menikah. Aku hanya perempuan murahan yang cukup di bayar dengan harta seadanya. Hanya saja, aku inginkan ketawaddlu'an seorang hamba Allah ada padamu. Karena Mas, Aku masih terlalu naif dan sombong di hadapan-Nya. Cukuplah bagiku kau mengajarkanku cara bersyukur dan cara merendah di hadapan-Nya.
Harta? Apalah arti harta jika itu hanya akan melalaikan aku atas-Nya.
Aku bukanlah perempuan yang suka jual mahal. Bagaimana mungkin orang mengatakan perihal kekayaan dan menunjukkan betapa mapannya dirimu di hadapanku? Sedangkan Aku malah merasa diriku ini semakin hina karena diukur dari harta. Aku punya harga diri Mas. Bukan, bukan dengan harta. Melainkan dengan keimanan yang luar biasa terhadap tuhannya. Yang dapat menjadi Imam bagiku, keluargaku dan Masyarakatku. Dan keimanan itu dapat menyebar ke segala penjuru dunia. Apa yang lebih indah dari itu Mas?
Aku ingin mengatakan semua ini padamu. Namun, di sms, telepon, akun sosmed maupun kehidupan nyata pun kau tidak pernah sekalipun menyapaku dan keluargaku. Bagaimana aku harus mengatakan padamu untuk berhenti mengejarku? Satu hal yang Aku yakini. Ketika engkau memanglah jodohku, suatu saat meski kau lama dalam penantian. Jika takdir berkata aku jodohmu. Aku akan kembali dengan tangan terbuka padamu. Entah sampai kapan.

Rabu, 02 Maret 2016

AMBURADUL

Dream. Impian. Mungkin bisa dikatakan cita-cita. Menjadi dewasa artinya dituntut untuk memiliki prioritas mimpi yang jelas kemudian memberikan usaha yang maksimal dalam mewujudkannya. Menjalani tingkatan semester akhir, ternyata bukanlah hal yang mudah. Banyak tanggungan fisik, Finansial maupun psikologis yang harus ditata sedemikian rupa untuk menantikan masa depan yang baik.
Tahun ini adalah tahun yang bagi saya sangat berbeban di hati. Meski mencoba bahagia, rasanya sangat sulit. Terlalu banyak impian yang perlu diraih. Namun bingung untuk memulai. Pada awalnya, prioritas saya adalah menyelesaikan hafalan. Namun, sepertinya Ibu kurang setuju dengan keinginan saya yang satu ini. Saya pun akhirnya sadar, sekarang bukan waktunya saya mengejar prioritas yang bagi Ibu sia-sia. Saya pun tidak ingin membebankan Ibu pada masalah finansial. Padahal jika ditelaah tujuan saya tidak lain adalah karena saya sudah lelah untuk mengejar dunia, saya ingin bersemedi dengan Allah, saya ingin merasakan atmosfer positif yang dulu sempat saya rasakan, saya ingin benar-benar fokus pada ibadah kepada Allah yang disambi dengan pendalaman TOEFL untuk persiapan S2 saya. Salahkah?

Senin, 14 Desember 2015

Sampean

For you, someone who lives far away from me. Thank  you for coming in my life. Thank you for bringing me to the truth way. Thank you for recognizing me to God and thank you for accompanying me whenever I need you. You're special one who lives in my life.

Pertama kali mengenalmu, aku mengerti bahwa hidup akan menjadi lebih sempurna ketika kita mampu mencintai Allah. Aku belajar itu darimu. Dari sana aku mulai merasa nyaman denganmu. Meski terkadang, kita berbicara tentang hal-hal yang kurang penting. Cerita demi cerita demikian mulus mengalir. Tanpa sekat, tanpa sungkan. Terkadang kita merindu satu sama lain. Tanpa basa-basi dulu kita sering mengatakannya. Aku hanya mampu tersipu malu. Aaah, saat itu kita masih terlalu muda untuk merasakan cinta.

Sabtu, 12 September 2015

Ketika Hati Ini Diuji

Hati. Sungguh sangat sulit menjaganya. Padahal agama sudah menentukan. masih saja hati selalu mencari-cari alasan untuk sekedar mencinta hingga mengagumi dalam diam. Apalagi masalah ingkar, ada saja yang menjadikan keingkaran itu dimaklumi. Padahal Allah belum tentu mau memaklumi. Manusia pun terkadang lebih sulit untuk dipahami. Sekian banyak yang telah diberikan oleh Allah kepada Manusia. Namun untuk beribadah saja rasanya sudah berat. Padahal, jika kita menengok apa yang telah Allah berikan dengan sesungguh-sungguhnya, kita tidak akan mampu lalai maupun berpaling dari-Nya. Nafas yang Dia berikan, belum lagi rizqi berupa kekayaan, turunan, kecerdasan dan sebagainya yang tidak pernah kita hitung. Kita hanya ahli dalam meminta, tanpa mampu bersyukur. adaaaa saja yang kurang. Herannya, Allah malah suka kepada hamba-Nya yang meminta kepada-Nya, memasrahkan kehidupannya kepada-Nya. Namun, apa yang kita perbuat? Kita malah menghitung setiap ibadah yang telah kita lakukan. Astaghfirullah.

Rabu, 10 Juni 2015

It's About Us ICP PIPS'12 UIN Maliki Malang


memiliki keluarga besar seharusnya menjadi hal tersulit dalam menentukan kesamaan tujuan. namun disini, tujuan kita sama tentunya dengan fungsi yang berbeda-beda. bermacam-macam karakter yang mustahil untuk disamakan. Bukankah demikian yang kita pelajari dari teori Durkheim?? namun tujuan kita sama. Wisuda bareng tepat waktu, menyelesaikan tugas tepat waktu dan go overseas. it's our dream right?
dengan karakter masing-masing saya yakin we will get our beautifull dream..

Minggu, 19 April 2015

Imamku Maybe


Kamu. Namamu sering kudengar. Namun, aku tak tau bagaimana rupamu. Sikapmu saja masih misterius bagiku. Kamu. Keluarga kita telah digosipkan akan menjadi besan. Bagaimana menurutmu? Apakah hal yang baik jika kau dijodohkan denganku? Apakah tak mengapa kalau kau menikah denganku? Kamu. Aku bukanlah orang yang sempurna. Mengertilah! Semua kebaikanku hanyalah gosip semata. Masihkah kau mau denganku?
Salam kenal. Aku orang terbodoh di dunia, aku juga orang termalas di dunia. Aku ingin memperkenalkan diriku padamu. Kamu. Aku ingin mengenalmu, aku ingin melihat wajahmu. Rasa penasaran ini selalu berkecamuk dalam hati dan pikiranku. Kalau boleh jujur, kamu bukanlah orang yang aku impikan selama ini. Jarak rumah kita terlalu dekat dan berkacamata, anak tunggal pula. Karena itulah aku ingin mempertimbangkannya dengan bertemu denganmu. Bolehkah?

Sabtu, 14 Maret 2015

Malaikatku

Teruntuk engkau. Siapapun yang akan menjadi kekasihku kelak. ini adalah pengakuanku. Terimakasih telah menerimaku menjadi separuh jiwamu. Terimakasih sudah melengkapi apa yang kurang dariku. Mungkin engkau menerimaku dari rumor positif tentangku. Pendiam, Pandai dll. Jujur, aku muak dengan semua pujian itu. Aku Muak, karena meruntuhkan diriku yang ingin menjadi lebih baik.
Teruntuk engkau. Siapapun darimu. Aku tak mengerti siapa yang benar-benar dipersiapkan untukku. Aku hanya berharap dia yang terbaik untukku. Egois memang saat aku harus meminta yang lebih dari karakterku sendiri. Tapi bagaimanapun aku hanyalah makhluk-Nya yang lemah dan selalu bersandar pada-Nya. Lebih ringan memang jika aku dapat bersandar di bahumu.

Senin, 15 Desember 2014

GERMANY

Skenario Allah selalu indah. Hanya itu yang bisa menjadi komentarku saat ini. menjadi mahsiswa ICP? siapa sangka diriku yang dulu sangat benci dengan pelajaran B. Inggris ini, harus menjadi mahasiswa yang kehidupannya berubah 80 derajat dari asalnya. Just for 2 years, I change my mind. inilah mungkin jalannya menuju Jerman.
1,5 tahun yang lalu. logikapun tak pernah kesampaian sampai sana. diriku yang benci bahasa Inggris ini, nekat mendaftarkan diri di kelas yang harus berbicara bahasa Inggris. Hampir saja aku tak mengikuti test seleksi masuk kelas ICP ini. Alasannya, you knowlah. I am really hate it. Namun, ada satu keyakinanku. AKU PASTI GAK KETERIMA. just it, that what I think. But, my destiny is different with something that I think. AKU DITERIMA di kelas ICP.

Sabtu, 13 Desember 2014

Dunia Luas tak Berdinding

ingat masa itu?
aku mendadak merindukan masa-masa ini. masa-masa penuh perjuangan setiap ujian "muhafadzah" dan penuh tirakat. mendendangkannya setiap hari tanpa lelah. entah kapan masa-masa itu akan hadir kembali. aku merindukannya. aku ingin menikmatinya kembali.
Namun kusadari inilah fase kedewasaan. fase untuk mencari ilmu yang lebih. tidak hanya berpatok pada ilmu yang pernah kudapat. budaya pesantren memang terpatri di hati. membuatku mengerti masih ada dunia yang luas di luar kehidupan matrialistis.
"Pesantren" setiap orang mungkin berpikir tempat kumuh dimana tempat orang-orang bersarung dan berjilbab berkumpul. namun bagiku, "pesantren" adalah tempat paling cerah dari pantai, gunung dan lainnya dimana orang terbiasa menghabiskan waktunya. didalamnya terdapat para pecinta hakikat Rabb yang sesungguhnya. langkah mereka ikhlas dalam mencari ilmu-Nya, ikhlas dalam memperjuangkan agama-Nya.

Kamis, 17 April 2014

Masjidku Kenanganku



Aku tutup Novel yang seminggu ini telah kukhatamkan. Novel yang tentunya membuka hatiku untuk kembali merindukan kalian. Novel ala santri pondokan yang berjuang. Bedanya, mereka berjuang untuk menjadi seorang hafidz, tapi kita berjuang untuk bisa mencapai kelulusan. Masjid, menjadi setting utama di Novel itu. Rindunya aku dengan Kemegahan Masjid YPM Al-Rifa’ie 1 yang dipenuhi kalian semua. Rindu saat kita berjuang mendapatkan shaf pertama. Ngaji bareng sambil menunggu isya’, sebelum Maghrib tiba, kita pun membaca Al-Qur’an. Meski secara individu, namun deru suara kita yang berusaha mengkhatmkan bacaan Al-Qur’an sungguh kurindukan. Saat ujian menyergap, kita tak akan lepas dari Masjid. Masjid. Tempat tongkrongan favorit.

Rabu, 12 Februari 2014

PENYESALAN

Aku ingin menjadi orang yang konsisten pada tujuan..
namun aku hanya manusia biasa..
yang hanya bisa mengikuti hawa nafsu belaka..
andai aku tak terhalang oleh nafsuku..
aku ingin katakan pada-Mu..
bahwa aku ingin mencinta-Mu dengan setulus hati..
mencintai Dzat yang akan memberikan segalanya untukku..
Kaulah Dzat yang tulus..
aku ingin mencintai-Mu..
namun..
yang terjadi saat ini adalah sebaliknya..
setiap detikku,setiap langkahku..
ku lakukan beribu-ribu kenistaan..
entah apa yang harus ku lakukan untuk untu menebus dosa..
tangisan penyesalan,istighfar pun sungguh sulit untuk Kau terima dengan dosaku ini..
dosaku bagaikan jumlah butiran pasir..
akupun seperti butiran pasir yang mencoba melawan arus angin..
namun aku hanyalah partikel kecil yang tak bisa melawan hembusan angin panas yang menghalauku..
aku pun ikuti kemana angin ini membawaku pergi..
yang ku tau hanyalah,aku akan kembali ke posisi yang sama dengan daerah yang berbeda..
oh..rabbku..
Kau begitu sempurna..
namun mengapa aku harus mendzalimi-Mu?
maafkan aku yang terlena dengan kehidupanku..
aku ingin mendapat ketenangan untuk bersama-Mu..
aku ingin kembali ke tujuan awal ku untuk menghafal firman-firman-Mu..
istaghfirlana ya rabb..

Selasa, 28 Januari 2014

Belajar Tak Butuh Hasil

Kemarin, seperti biasa saya dan teman-teman berkumpul saat musim KHS tiba. Dengan tempat yang tetap dan waktu yang tetap. Taman depan fakultas. Entahlah, tempat itu menjadi tempat langganan bagi  kami. Kesenangan tersendiri saat kami berbincang-bincang seputar kegiatan liburan dan saling mengeluarkan isi hati seputar KHS. Pembicaraan yang bernuansa humor tak pernah lepas dari kami. Ah, ini yang membuat saya selalu rindu suasana kelas di setiap liburan semester.
                Siang itu, kami membicarakan seputar PKPBI. Kami yang tak pernah merasakan PKPBI turut penasaran dengan KHS anak regular. Pembicaraan seputar KHS, wisuda dan tentunya sertifikat wisuda. Sekilas kami melihat, Regular sangat istimewa. Wisuda, yang ada pada semester 5 bagi regular sangat mengenaskan bagi kami yang berada di kelas ICP yang tidak dapat merasakan wisuda. Sertifikat TOEFEL pun kami tak mungkin mendapatkannya. Kami sejenak merenung. Membicarakan masalah lain sebagai hiburan bagi kami yang suka ngobrol ala OVJ.
                Dari pembicaraan siang itu, membuat saya semakin merenung. Menanyakan kepada hati saya sendiri. Apa tujuan saya di ICP?. Apa istimewanya ICP?. Apa yang saya dapatkan di ICP?. Saya hanya menyadari kelebihan anak regular. mereka mendapatkan ilmu lebih dari kami. Kami hanya membiasakan diri kami dengan bahasa Inggris. Dan tetap saja, ketika kami dilatih untuk mendengarkan seminar International, Seringkali kami masih saja tidak memahami maksudnya. PKLI di luar negri kah yang menjadi keistimewaan ICP? Jika untuk ukuran Malaysia, kenapa kami harus memakai bahasa Inggris. Toh, bahasa kami dan Malaysia hampir sama. Ijazah kami dengan kelas Regular pun mungkin sama, yang membedakan hanya tingkat skripsi kami yang menggunakan bahasa Inggris. lalu, saat tak ada bukti tertulis, maka tak ada yang membuat kami istimewa di ICP.
                Namun, kami merasa beruntung saat kami berada di kelas ICP. Tugas yang membludak, ditambah tanggungan tugas kami yang harus menggunakan bahasa Inggris, membuat kami bersyukur saat kami tidak mendapat jadwal PKPBI yang biasa dilakukan di sore hari. Selain itu, kapasitas kelas kami yang hanya menampung 20-25 orang, membuat kami lebih konsentrasi dengan mata kuliah yang diajarkan dengan menggunakan bahasa Inggris. Yah, meskipun hasil kami pun tak maksimal. Namun, kami lebih bersyukur saat kami memahami isi dari ilmu tersebut. Apalah gunanya belajar, saat kami hanya mencari hasil tanpa bisa memahami isinya.

                Sejenak mungkin saya merasa egois, karena merasa kehidupan ICP yang diasingkan. Namun, saat kami mencari pemahaman, kami meyakini itu akan lebih mudah untuk menjadi profesi tujuan kami yaitu sebagai pengajar. Bukankah saat kami memahaminya, ilmu akan mudah untuk menjadi bermanfaat?. Terimakasih tuhan, atas segalanya. Ilmu yang kami dapat, serta kefahaman yang kami dapatkan.

Rabu, 22 Januari 2014

Ketika Ibu Ingin menikah Lagi..

Aku tak pernah menyangka hidupku akan seperti ini. Bukan mengeluh. Tapi tak menyangka sekaligus tak tau apa yang mestinya aku lakukan.  Hanya bisa terdiam dan terus berpikir solusi terbaik. Merenung setiap malamnya. Menulis apapun yang bisa melampiaskan isi hati ini. Meski seringkali melenceng dari isi hati.
                Kematian ayah hanya berjarak beberapa bulan dari sekarang. Namun, terasa berat bagiku. Sejak kematian ayah, aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak meninggalkan ibuku. Karena aku tau, kini hanya ibu yang aku miliki. Untuk itu, Setiap kali aku mendapatkan jadwal libur dari kampus, aku tak segan-segan untuk pulang ke kampong halaman, untuk sekedar menemani Ibu. Aku paham betul bagaimana perasaan seseorang saat harus kehilangan kekasih. Serta bagaimana saat kondisi itu anaknya tak ada di sisinya.
                Aku hanya dua bersaudara. Waktu ayah tiada, seluruh biaya pendaftaran pendidikan adik sudah lunas. Tak mungkin adik harus men-cancel dirinya untuk masuk pesantren. Hanya aku satu-satunya yang dapat diandalkan untuk menemani ibu. Saat Ayah masih hidup, Ayah memasrahkan seluruh tanggungjawabnya padaku. Entah, saat itu beliau telah merasakan hidupnya tak lama lagi atau memang karena aku putri tertuanya. Aku hanya merasakan beratnya tanggungjawab itu saat beliau telah tiada. 
                Sejak kematian ayah, sikap Ibu berubah. Ibu selalu merasa dirinya kembali muda. Sikap Ibu kini lebih kekanak-kanakan. Entahlah, kini aku yang harus mengalah. Bahkan sampai urusan music pun, kami selalu berdebat. Ibu yang hidup di tahun 80-an, lebih memilih lagu-lagu jadul untuk menemani pagi keluarga baru kami. Kau tau? Lagu-lagu mellow yang mengharukan. Tak ada bahagianya. Aku tak suka itu dan aku yang selalu mengalah. Namun, tetap saja Ibu mengatakan bahwa diriku yang egois. selain masalah music, kami pun sering berdebat tentang film. Aku yang merasa kini tumbuh dewasa lebih memilih film-film yang berkaitan dengan perkembangan Indonesia dan tayangan-tayangan humor untuk sekedar melepaskan kepenatan masalah Indonesia. namun, Ibu? Kini lebih menyukai film percintaan. Tuhan, apa yang terjadi pada Ibuku?
                Kini, seringkali aku melihat ibu gelisah saat HPnya lowbat. Padahal sebelumnya, memegang HP pun Ibu tak bisa. Bahkan, beberapa malam kemarin aku memergoki Ibu mendapatkan telepon dari seseorang. Aku tak tau siapa itu, yang pasti sang penelepon adalah kaum adam. Entah, saat itulah aku merasa hatiku teriris. Bahkan aku pun tak pernah melakukan itu dihadapan Ibuku, namun inikah balasannya. Aku menahan air mataku. Menahan luka yang menyayat hatiku. Aku tak berani pacaran, namun Ibu berani melakukannya dihadapanku.
                Setelah sholat Ashar, aku memohon pada tuhan di atas sajadah yang selalu digunakan almarhum ayahku. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku hanya berharap yang terbaik. Tapi entahlah, akhir-akhir ini, ibu sering membicarakan tentang masalah pernikahan, cowok. Namun buruknya, saat  aku mendengarkan pembicaraan itu, hatiku justru semakin terluka. Meski aku tau, Ibu pastilah merindukan kasih sayang dari seorang lawan jenis.  Perasaan itu wajar sebenarnya. Namun, mengapa hati ini sangat sesak?. Mungkin karena aku terlalu merasa betapa banyak jasa yang diberikan Ayah padaku. Sehingga ada perasaan tak rela saat Ibu melukai Ayah. Meski mungkin Ayah sudah mengikhlaskannya.
                Siang itu, saat adik pulang dari pesantren, aku bicarakan hal itu dengan adik. Adik tak menyetujui Ibu menikah lagi. Aku pun begitu. Namun di sisi lain, aku pun memperhatikan bagaimana kelanjutan pendidikan adikku saat aku lulus dari kuliah kelak. Uang pensiunan Ayah pun akan terhenti sampai situ. Di sisi lain, aku ingin bebas menghabiskan liburan semesterku yang panjang untuk sesuatu yang bermanfaat di daerah perantauanku. Namun tak bisa. Aku tak tega meninggalkan Ibu, meskipun Ibu pun mengizinkanku.
Aku masih teringat pesan ayah padaku, agar aku dapat membayar seluruh biaya kuliah adik. Ayah memberikan amanah yang tak ternilai. Pendidikan memang segalanya di mata Ayah. Tuhan, haruskah aku merelakan Ibuku menikah lagi?. Jika tidak, lalu bagaimana masa depan adikku?. Tuhan, aku tau takdir-Mu akan selalu indah bagi ummat-Mu meski seringkali tak sesuai yang diinginkan. Tuhan, aku memohon pada-Mu, berikan jalan Rizki bagi hamba-Mu yang lemah ini.

                Belakangan ini, aku semakin terdesak oleh pembicaraan Ibu tentang anak tetangga yang setaiap liburan semester selalu mencari pengalaman bekerja. Namun, Saat aku mengatakan akan tinggal di Malang selama seminggu saat liburan semester, ekspresi Ibu seakan menggambarkan kekecewaan. Aku masih saja tak memahami perasaan Ibu. Dan Ibu pun masih saja tak memahami aku yang inginselalu menemaninya. Aku tak paham semua ini. Sungguh!!

Senin, 20 Januari 2014

Belajar dari Tetangga

Satu realitas lagi yang mampu membuat saya yakin bahwa Allah selalu adil. Kemarin, saat saya facebook-an, iseng-iseng saya komen di status tetangga RT sekaligus saudara yang lagi galau sama gebetannya. Sebelumnya biar gak bingung saya kasi kode si A itu saudara saya. Nah yang ingin saya ceritakan disini bukan si A tapi si B. si B ini tetangganya si A yang saya sendiri baru tau kalo dia tetangga saya, nama facebooknya pun saya baru tau kemarin saat dia ikut nimbrung dalam obrolan saya dan si A di status si A. Entah ada setan apa tiba-tiba si B nge-add saya. Kontan saya mengkonfrimnya. Seketika itu juga dia nge-chat saya. Saat itulah saya mengerti kalau dia tetangga si A. Si B mengatakan pada saya bahwa ia pernah bertemu saya di Kampus. Sudah pasti dia anak kuliahan, saya pikir.
            Maklum saja, daerah kami memang area industrialisasi yang lebih memilih kerja daripada pendidikan. Ya meskipun gajinya di bawah rata-rata pendapatan pegawai negri, mereka lebih memilih menjadi pegawai pabrik-an tanpa berusaha memapankan diri untuk mendapatkan pendapatan lebih. Saya sebagai mahasiswa yang kini mengetahui pentingnya pendidikan merasa simpati dengan keadaan ini. Jadi tak heran jika saya cukup kagum jika di daerah saya ada yang memilih kuliah sebagai  pilihan setelah jenjang sekolah SMA.
            Saya kembali mengingat lokasi daerah RT terakhir tersebut yang merupakan perbatasan antara desa saya dengan desa baru yang didominasi oleh korban Lapindo. Di RT itu jarang sekali rumah, otomatis saya pun mudah mengingat siapa yang berada disana. Dan anehnya, yang saya tangkap dalam pikiran saya adalah sepasang suami-istri yang hanya berpenghasilan dari berjualan mainan anak-anak. Yah, itu adalah bapak dan ibunya. Untuk meyakinkan itu, saya bertanya pada ibu saya dan memang benar. Adek si B sekarang masih nyantren di Gontor yang biayanya pun pasti di atas rata-rata pesantren lainnya. Mengingat Gontor adalah pesantren yang modern dan terkenal bagus. Si B pun kini sudah lulus kuliah.
            Saya sangat kagum dengan realitas ini. Coba renungkan. Dengan penghasilan yang minim, beliau berdua mampu menyekolahkan putra-putrinya ke sekolahan yang layak. Saya yakin, hanya orang tua yang hebat, yang bisa melakukan hal itu. Mungkin biasa bagi kalian, namun luar biasa bagi saya mengingat sedikit sekali orang yang mementingkan pendidikan di  tengah jaman Kapitalis ini. Semua berpikir hartalah yang terpenting. Apalagi untuk kalangan seperti mereka yang berpenghasilan minim. Namun, orangtua ini luar biasa.  

Saya jadi teringat perkataan ustad saya saat saya masih di pesantren “saat seorang anak sudah mengetahui mana yang salah dan mana yang benar (Baligh) saat itulah tanggung jawab orang tua sudah mencapai garis finish. Namun saat orang tua rela memberikan tetesan keringatnya untuk sang anak, itu bukan kewajiban, tapi shodaqoh.” Dari perkataan ini kemudian saya kombinasikan dengan keterangan-keterangan ustad saya yang lain bahwa “barang siapa yang bershodaqoh, maka akan dibalas sepuluh kali lipat oleh Allah.” Dan saya kini yakin bahwa Allah tak pernah luput dari janjinya dan Allah selalu adil pada hambanya yang berusaha. Allah selalu melihat proses, bukan hasil. Hasil yang banyak, tak selalu menjamin keberkahan suatu harta. Proses yang baik selalu memberikan keberkahan bagi hamba-Nya.

Sabtu, 18 Januari 2014

Impian yang Pupus

Sering kali aku berkhayal menjadi sesuatu yang setidaknya bisa kudapatkan di masa depan..
Setidaknya aku bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk  orang lain..
Namun aku rasa, diriku telah keliru membayangkan semua itu..
Takdir telah merubah segalanya..
Aku pun kini merasa bahwa aku bukanlah sosok yang hebat..
Tak  seperti masa lalu, dimana aku bisa menaklukkan segalanya..
Aku kini merasa kalah..
Tak  ada yang bisa aku lakukan..
Aku pun tak sehebat para pahlawan-pahlawan dunia yang dapat menjadi sorotan mata dunia..
Angan-anganku terlalu tinggi..
Aku ingin merubah dunia..
Tapi tak setara dengan usahaku..
Sekarang..
Aku sadari..
Betapa  tak  bergunanya aku..
Tak ada yang dapat di banggakan dariku..
Semua karena rasa malu, rasa cuek yang ada dalam diriku..
Ada banyak  rasa ketidakpercayadirian dalam hati ini..
Andai aku lelaki..
Akan ku tepis semuanya..
Namun, aku hanyalah  kaum hawa yang diliputi dengan norma..
Yang terbatasi oleh hokum illahi..
Ya Allah..
Ajari aku bagaimana cara menaklukkan dunia..
Semudah engkau membolak-balikkan aku..
Tajamkan otak ku dengan kreatifitas..
Tajamkan lidahku dengan ucapan kebajikan..
Tajamkan hatiku dengan keberanian..
Sehingga aku benar-benar bisa menjadi khalifah di dunia..

Aamiin..

Surat untuk sahabat..

Teruntuk kawanku..
Kehilangan seseorang yang menjadi penopang dalam keluarga, memanglah sangat sakit..
Sedih, dan entahlah perasaan kehilangan yang begitu besar..
Tapi ketahuilah, tuhan selalu memberikan takdir yang terbaik bagi makhluk-Nya..
Meski seringkali takdir itu tak kita inginkan..

Perjumpaan dengan sang khalik bukanlah takdir yang terburuk kawan..
Namun, inilah takdir yang terbaik bagi beliau dan kamu sekeluarga..
Beliau sudah merasakan kebahagiaan yang sangat saat beliau harus kehilangan penderitaannya..
Beliau pun bahagia saat keluarganya bebas dari beban atas penderitaannya..

Kehilangan seseorang, bukan berarti akhir dari segalanya..
Bukan akhir dari senyummu, bukan akhir dari semangatmu, bukan akhir dari tawamu..
Bukan berarti saat jasad terpisah dengan ruh, berarti berakhirlah kasih sayangnya..
Beliau masih bisa melihat senyummu, semangatmu, serta kesedihanmu..
Beliau akan sangat tersiksa saat kau selalu berlarut-larut dalam kesedihan..

 Namun, Beliau akan merasa senang saat kau berusaha menyembunyikan kesedihanmu dalam seulas senyum..
Beliau akan bangga melihat semangatmu..
Jangan kau berpikir untuk rapuh..
Jangan pernah berpikir kau lemah tanpanya..
Wujudkan apa yang beliau harapkan darimu..
Wujudkan apa yang menjadi amanahnya..
Karena pada hakikatnya, beliau masih ada didekatmu..
Hanya saja pada dimensi kehidupan yang berbeda..
Kami selalu bersamamu kawan..

Jika kita putar waktu setengah tahun yang lalu..
Saat aku berada pada posisimu saat ini..
Saat aku tak setegar apa yang kini kau lihat..
Aku memang merasa rapuh pada saat itu..
Harapanku hilang..

Namun, pada saat itu pula..
Aku merenung, menghayati setiap arti kehidupan..
Melihat kontibusi yang telah beliau berikan padaku..
Gambaran semangat beliau ada pada bayanganku..
Harapan beliau padaku pun muncul dalam bayanganku..
Semangat yang beliau wariskan padaku tak kan pernah berakhir dengan hilangnya pewaris..

Semangatlah kawan..
Karena kau tak sendiri..

Semangatmu berharga untukmu..

Ayah..

Ayah..
Seringkali aku memikirkanmu..
Sedang apa engkau sekarang..
Bagaimana kabarmu..
Dimana engkau sekarang..
Surga atau Neraka??
Aku berharap kau selalu di surga-Nya..
Aku ingin tau Ayah..
Aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu disana..
Ayah..
Aku sungguh merindukanmu..
Aku merindukan nafasmu..
Aku merindukan senyummu, tawamu, bahkan marahmu..
Aku merindukan semua tentangmu..
Ayah..
Jika kembali kuingat pengorbananmu untukku..
Aku sangat merasa betapa banyak umurku yang kuhabiskan untuk menyusahkanmu..
Betapa banyak umurmu yang tak bisa aku kembalikan untuk sekedar membahagiakan dirimu sendiri..
Teringat dipikiranku..
Saat aku berbagi kelu-kesahku di masa perkuliahan..
Kau selalu memberiku arahan..
agar aku tak terjerumus dalam dunia yang tak pernah kuketahui..
Ayah..
Andai kau bisa sedikit lebih lama disisiku..
Aku berharap suatu saat bisa membalas semua kebaikanmu..
Namun yang ada aku merepotkanmu hingga akhir hayatmu..
Ayah..
Betapa aku adalah anak yang durhaka..
Bahkan saat kau menghembuskan nafas terakhirmu saja aku tak disisimu..
Ayah..
Bisakah aku memutar waktu kembali..
Berharap kau disisiku, menolongku di masa depan..
Berharap kau bisa menjadi wali dalam pernikahanku nanti..
Ayah..
Aku sangat membutuhkanmu..
Kini, dalam diam, aku seringkali mengingatmu..
Mengingat jasamu..
Aku berjanji ayah..
Akan aku teruskan jejakmu..
Aku akan menjadi anak yang baik..
Hingga kau bisa mendapat tempat yang terbaik disana..
Doakan aku dari jauh yah..
Dari sana, agar cita-citaku segera terwujud..
Dan bisa membahagiakan orang disekitarku..

Seperti engkau dahulu yah..

Senin, 02 Desember 2013

keindahan tak bersinar

Ku teteskan air mata ini..
Menjamah setiap deruan kisah masa lalu..
Indah dan tak berbeban..
Kini semua hanya sejarah..
Indah memang, tapi tak seindah dulu..
Saat kurasakan semuanya sempurna..

Dulu..
Tak ku sadari keindahan kisah itu..
Namun, ketika tiba saatnya..
Hilang sudah pengalaman indah, yang tak sengaja terukir..
Hiasan rumah yang tersisa, selalu mengembalikan ingatanku akan masa lalu itu..
Ingin rasanya kuulangi segalanya..

Aku..
Tak pernah berpikir menjadikanku sebagai perhiasan indah pada tempat yang indah..
Membiarkanku tenggelam pada keindahan yang justru tak diharapkan..
Terlena dengan keindahan yang ada, dan hanya terpaku tanpa berpikir..
Kini, hanya tersisa penyesalan dan kenangan..
Kerinduan yang sia-sia atas keindahan itu..
Hingga aku sadari keindahan itu akan selamanya menjadi keindahan..
Keindahan yang tanpa sinar untuk mewarnainya..
Meski keindahan tanpa warna itu, kini menjadi warna pada keindahan saat ini..

Senin, 01 April 2013

TAUBAT

Aku ingin menjadi orang yang konsisten pada tujuan..
namun aku hanya manusia biasa..
yang hanya bisa mengikuti hawa nafsu belaka..
andai aku tak terhalang oleh nafsuku..
aku ingin katakan pada-Mu..
bahwa aku ingin mencinta-Mu dengan setulus hati..
mencintai Dzat yang akan memberikan segalanya untukku..
Kaulah Dzat yang tulus..
aku ingin mencintai-Mu..
namun..
yang terjadi saat ini adalah sebaliknya..
setiap detikku, setiap langkahku..
ku lakukan beribu-ribu kenistaan..
entah apa yang harus ku lakukan untuk menebus dosa..
tangisan penyesalan, istighfar pun sungguh sulit untuk Kau terima dengan dosaku ini..
dosaku bagaikan jumlah butiran pasir..
akupun seperti butiran pasir yang mencoba melawan arus angin..
namun aku hanyalah partikel kecil yang tak bisa melawan hembusan angin panas yang menghalauku..
aku pun ikuti kemana angin ini membawaku pergi..
yang ku tau hanyalah,aku akan kembali ke posisi yang sama dengan daerah yang berbeda..
oh..rabbku..
Kau begitu sempurna..
namun mengapa aku harus mendzalimi-Mu?
maafkan aku yang terlena dengan kehidupanku..
aku ingin mendapat ketenangan untuk bersama-Mu..
aku ingin kembali ke tujuan awal ku untuk menghafal firman-firman-Mu..
istaghfirlana ya rabb..

Andai Kau Tau

Telah banyak konflik antara kau dan aku.. pudar sudah kepercayaanku padamu..
Aku ingin kau bahagia dengan orang yang kau sayang..
mungkin aku tak pernah mengetahuinya..
kau hanya menyembunyikannya dari aku..
aku mungkin lemah..
aku mungkin tak pernah memiliki pengalaman mencintai bahkan sedikit pun..
tapi aku tetap punya perasaan yang peka,dan sensitif seperti umumnya wanita..
aku pun dapat merasakan saat sikapmu mulai berubah..
saat perasaan ini ingin marah.. tak ingin kau dimiliki orang lain..
namun..
aku sadar..
kelihatannya begitu egois jika aku memiliki perasaan itu padamu..
mungkin sejenak kau akan berpikir bahwa aku tak menyayangimu..
namun..
Andai kau tau..
dalam setiap hela nafas,hati ini seakan-akan menyebut namamu..
andai tak ada kekuatan dalam hati untuk menjaga kesucian hati untuk kekasih yang kekal untukku..
mungkin diri ini,akan mampu menjagamu dengan baik..
meski dalam diam aku pun masih menjagamu..
menjaga kebahagiaanmu,meski tak bersamaku..
menjaga kesucian hatimu..
menjagamu dari segala maksiat..
yang aku khawatirkan akan kau temui di suatu saat nanti..
bahkan..
jika kau tau..
doaku selalu bersamamu hubbi..
kasih sayang ini akan selalu tertanam dalam hatiku..
meski suatu saat jiwa ini pasti menjadi milik orang lain..
namun hati ini,akan tetap mengingatmu sebagai orang yang pernah hadir dalam hati ini..
dan yang telah mengajariku arti cinta..
 terimakasih untuk semuanya..
aku tak ingin mengusikmu untuk kesekian kalinya..
namun..
semakin hati ini berusaha untuk menjauh dari hidupmu..
semakin aku merasakan kerinduan yang sangat..
semoga kau merasakan hal yang sama..
andai kau tau..
sejak awal pertemuanku denganmu..
setelah bertahun-tahun tak bertemu..
ternyata tiba-tiba perasaan sayang ini muncul..
namun lidah ini keluh untuk mengucap kata cinta,sayang maupun rindu..
terasa aneh untuk ku ucapkan..
bahkan saat aku menyebutmu kawan..
seakan hati ini menolak dengan sangat..
aku telah mengkhianati hatiku sendiri..
sampai akhirnya aku sadar..
bahwa ini bukan yang terbaik untuk diriku..
kau telah menemukan banyak wanita yang mampu membuat hatimu lebih bahagia..
meski harus kunikmati derita ini..
kini aku berhenti memberi kabar padamu..
hanya aku berharap bisa melupakanmu..
meski dalam kenyataannya kau begitu sulit untuk dilupakan..
aku tak bisa mengekang keinginan hati untuk sekedar melihat kabarmu..
namun..
aku tau..
bukankah semua ini butuh proses???
aarrgghhh..
andai kau tau yang sebenarnya..
dapatkah kau membuka mata hatimu,untuk sekedar menengok betapa perihnya hati ini??
ya rabb..
aku tau..
perasaan ini salah..
namun..
tunjukkan padaku ya rabb..
apa yang harus aku lakukan untuk melupakannya,dan kembali ke jalan-Mu..
seperti dahulu kala..
Saat aku belum betemu dengannya..
dengarlah doa ini ya rabb..
meski diri ini telah nista..
namun..
hanya pada-Mu-lah aku meminta..
aku tau kaulah yang Maha Pemberi Takdir..
Kaulah yang tau apa yang dibutuhkan hamba-Mu yang hina ini..